Back to notes
5 min read

Awal Mula

Awal mula keterkarikan saya terhadap sejarah intelektual manusia.

Awal Mula

Awal Ketertarikan Saya pada Sejarah Intelektual

Pada pertengahan tahun 2025, saya mulai sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya cukup sederhana tetapi terus mengganggu pikiran saya: mengapa teknologi bisa semaju sekarang? Dari mana semuanya bermula? Siapa yang pertama kali memulai pemikiran-pemikiran besar yang akhirnya melahirkan teknologi modern seperti yang kita lihat hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus muncul di kepala saya. Saya sendiri tidak tahu pasti apa yang memicu rasa penasaran itu, tetapi kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah karena pada saat itu saya sedang sangat tertarik dengan bidang Artificial Intelligence.

Saat itu saya cukup sering membuat berbagai project AI menggunakan beberapa framework seperti LangChain, LangGraph, dan CrewAI. Framework-framework tersebut membuat proses membangun AI menjadi jauh lebih cepat dan praktis. Namun setiap kali saya berhasil membuat sebuah project menggunakan framework tersebut, selalu ada satu rasa penasaran yang muncul: sebenarnya bagaimana cara kerja semua ini di balik layar?

Sebelumnya saya memang sudah mengenal beberapa konsep dasar Machine Learning seperti supervised learning, unsupervised learning, dan reinforcement learning. Tetapi ketika saya mencoba memahami fenomena Large Language Model (LLM), saya merasa penjelasan dari machine learning klasik belum sepenuhnya menjawab rasa penasaran saya.

Machine learning klasik biasanya digunakan untuk menyelesaikan task-task yang cukup spesifik seperti klasifikasi, clustering, atau regresi. Model belajar dari pola data untuk menghasilkan prediksi tertentu. Tetapi ketika melihat LLM, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. LLM dapat menghasilkan teks yang sangat natural, bahkan terkadang terasa seperti sedang berbicara dengan manusia. Hal tersebut membuat saya semakin penasaran: mengapa model bisa terlihat seperti “berpikir”?

Memang pada dasarnya LLM juga belajar dari pola data, sama seperti model machine learning lainnya. Namun yang membuatnya berbeda adalah jenis data yang dipelajari. LLM dilatih menggunakan bahasa manusia (natural language). Sementara bagi manusia sendiri, bahasa adalah alat utama untuk berpikir, mengekspresikan ide, dan memahami dunia. Dari situlah rasa penasaran saya semakin besar: bagaimana mungkin sebuah mesin dapat mempelajari bahasa manusia dan menghasilkan respons yang terasa begitu natural?

Karena rasa penasaran itu, saya mulai mencoba mencari jawaban dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi sejarah perkembangan intelektual manusia.

Singkat cerita, saya menemukan sebuah konten yang membahas rekomendasi buku untuk mahasiswa semester satu. Konten tersebut dibawakan oleh Rocky Gerung, yang menurut saya merupakan salah satu figur publik dengan kapasitas intelektual yang cukup tinggi. Dalam konten tersebut, beliau merekomendasikan sebuah buku karya Bertrand Russell yang berjudul The History of Western Philosophy.

Karena rekomendasi tersebut datang dari beliau, saya menjadi tertarik untuk membeli buku itu. Padahal sebelumnya saya sama sekali tidak memiliki latar belakang dalam bidang filsafat. Namun buku tersebut terasa menarik karena membahas perjalanan pemikiran manusia dari zaman Yunani kuno hingga zaman modern. Saya merasa mungkin dari sanalah saya bisa menemukan sedikit jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada di kepala saya.

Ketika mulai membaca buku tersebut, saya menemukan banyak tokoh filsuf yang cukup terkenal seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Dari sana saya mulai menyadari sesuatu yang cukup menarik: perkembangan intelektual manusia ternyata terjadi secara bertahap dari zaman ke zaman.

Misalnya pada masa peradaban Mesir kuno, manusia sebenarnya sudah memiliki intelektual, tetapi cara mereka menjelaskan fenomena alam masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat ghaib. Fenomena seperti hujan, petir, atau perubahan alam lainnya sering dianggap sebagai tindakan para dewa. Karena pada saat itu belum ada cara rasional untuk menjelaskan fenomena tersebut, maka wajar jika masyarakat mengaitkannya dengan kekuatan supranatural. Mungkin itu juga yang menyebabkan pada masa tersebut muncul begitu banyak konsep dewa dalam kebudayaan mereka.

Kemudian ketika memasuki zaman Yunani kuno, saya melihat adanya perubahan besar dalam cara manusia berpikir. Banyak filsuf mulai mencoba menjelaskan fenomena alam secara lebih rasional. Dari pemikiran-pemikiran sederhana mereka, secara tidak langsung lahirlah cikal bakal berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, dan ilmu alam lainnya.

Bahkan ada seorang filsuf yang sudah berpendapat bahwa segala sesuatu di dunia ini tersusun dari bagian-bagian kecil yang disebut atom. Meskipun pada saat itu masih berupa spekulasi filosofis dan belum didukung oleh metode ilmiah modern, tetapi ide tersebut menunjukkan bahwa manusia sudah mulai mencoba memahami dunia secara rasional.

Dari sekian banyak tokoh yang saya baca, ada dua filsuf yang paling membuat saya terkesan, yaitu Plato dan Aristoteles. Keduanya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan pemikiran manusia selama berabad-abad.

Plato merupakan guru dari Aristoteles. Menariknya, meskipun mereka memiliki hubungan guru dan murid, pandangan mereka tentang realitas cukup berbeda. Plato cenderung berpikir secara metafisik. Ia berpendapat bahwa dunia yang kita lihat hanyalah bayangan dari sebuah realitas yang lebih sempurna yang ia sebut sebagai dunia ide. Sementara itu Aristoteles memiliki pendekatan yang lebih realistis. Ia melihat bahwa bentuk (form) dan materi (matter) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami suatu objek.

Melihat perbedaan pandangan tersebut justru membuat saya semakin kagum. Dua orang dengan pendekatan berpikir yang berbeda ternyata sama-sama memberikan kontribusi besar terhadap fondasi ilmu pengetahuan manusia.

Pada akhirnya, dari membaca buku tersebut saya mulai menyadari bahwa perkembangan intelektual manusia adalah proses yang sangat panjang. Cara manusia memahami dunia berubah dari waktu ke waktu. Pada awalnya manusia menjelaskan fenomena alam melalui asumsi dan mitologi. Kemudian perlahan-lahan manusia mulai menggunakan pendekatan rasional, observasi, dan akhirnya metode ilmiah.

Bagi saya pribadi, membaca buku tersebut menjadi salah satu titik balik dalam cara saya memandang pengetahuan. Saya mulai memahami bahwa teknologi modern yang kita nikmati saat ini bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari perjalanan panjang pemikiran manusia selama ribuan tahun.

Selain itu, pengalaman membaca buku ini juga secara tidak langsung mengubah kebiasaan saya. Jika sebelumnya saya jarang membaca buku di luar bidang teknologi, sejak saat itu membaca mulai menjadi salah satu hobi baru bagi saya. Saya juga mulai melihat dunia dengan perspektif yang sedikit berbeda: bahwa setiap pengetahuan yang kita miliki hari ini sebenarnya berdiri di atas pemikiran banyak orang di masa lalu.